Selasa, 04 Juni 2013

Cerpen

KAMBOJA
“Ombworbwaswatatsawiturwarinnya...” semilir angin bersama kesejukan menghempaskan helai demi helai rambutku membuat bunga kamboja kuning yang terselip di telinga terjatuh, kubiarkan bunga indah itu berteman dengan suburnya tanah di pulauku. “Ayu maukah kau menikah denganku?” bagaimana mungkin aku sanggup menolak, tapi... ting...ting...ting.... alunan lonceng yang diyangkan Bapaku membangunkan lamunan yang kurasa tak perlu, dengan imaji yang masih melekat difikiranku kuteruskan upacara ngaben mayat Ibuku, tak lama setelah upacara selesai Bapa memanggilku “Ayu kamu tau artinya kasta di Bali ini?” dibuka dengan pertanyaan Bapa yang tak biasa sekaligus pertanyaan yang bisa mengguncangkan hatiku sekali ucap, “tau, tiang menghormati kasta tiang sebagai anak agung” jawabku singkat tanpa melihat mata Bapa yang tak lagi memancarkan cahaya kelembutan.
***
                Anak agung Ayu Iswariyati nama yang memberatkan untukku, bukan aku tak menyukainya tapi kata AA lah yang membuatku tak bisa merasakan hal yang sama dengan teman-temanku yang lain. “Anak agung tak sepantasnya menjalin hubungan dengan laki-laki lain agama, tau kamu! Dengan orang yang beda kasta saja tak pantas, jauhi dia!” sekelibat bayangan Bapa memarahiku seminggu yang lalu membayangi fikiranku seolah hantu yang kapanpun bisa menerkamku, selama aku hidup dengan rela aku diperlakukan berbeda hanya satu yang tak dapat kuikhlaskan itu karna aku tak bisa merasakan kesempurnaan cinta Habibi sebagai wanita yang layak disandarkannya wanita yang layak ia panggil istri, “anak agung tidak layak pulang malam sampai selarut ini”  sekali lagi petuah-petuah Bapa merajai jalanku. “Door, ngelamun aja” kaget Habibi, laki-laki yang merubah cara pandangku tentang hidup ini, “ih.. kamu suka sekali sih ngangetin orang” balasku seraya melayangkan pukulan-pukulan kecil di lengannya, “yang, gimana Bapa kamu sudah setuju ngak sama hubungan kita?” timpal Habibi “amh.. belum, gimana sama Abah kamu?” tanyaku “ya gitu deh Abah selalu keras nentang, Abah selalu kepikiran apa kata masyarakat ma santri-santrinya nanti” jelas Habibi “terpaksa kita harus lupain semuanya, aku juga ngak bakl bisa ngecewain Bapa” usulku dengan terpaksa, apa yang baru saja keluar dari mulutku memang tak selaras dengan hatiku, kusimpan rapat-rapat kesedihanku agar tak terlihat di matanya hatiku tercabik lebih kecil dari butiran debu “Aku ngak mau kehilanganmu Yu, gimana kalau kita cari dukungan ke orang-orang?” usul Habibi sedikit melekatkan kemabli keruntuhan hatiku yang rapuh sebelumnya. “Gimana caranya kita minta dukungan?” tanyaku “kita minta tanda tangan orang sekitar kita buat dukung hubungan kita, gimana setuju ngak?” tanyanya “oke kita muali dari sekarang” ajakku, kuberharap dengan dukungan dari banyak orang bisa membuat hati Bapaku dan Abah Habibi terbuka pintu hatinya demi kebahagian kedua anak mereka. Berhiaskan keringat yang senantiasa mengalir di dahi kami, aku dan Habibi mengelilingi Universitas tempat dimana kami kuliah. Dengan lelah, sesekali Habibi mengusap keringat di dahiku, seseorang yang berperawakan penduduk Timur tengah seperti Habibi memang sasaran yang tepat untuk melepas lelah hanya dengan memandangnya.
***
                Tetesan air hujan terus mengalir membeberkan embun di kaca kamarku, untuk kali ini aku tercabik lagi bukan karena mereka tetapi karna diriku sendiri, semakin terfikir semakin aku yakin Tuhan tak izinkan aku untuk tersenyum bahagia kali ini. “Ayu, Habibi datang, dia ada di depan!” kata Bapa dengan nada rendah, dengan cepat ku muali rencana yang telah kurancang dengan kemampuan ekting yang pas-pasan aku mulai permainan dengan separuh hati. “Tok..tok..tok.., Ayu!” kali ini Habibi berada tepat didepan pintu kamarku seraya mengetoknya dan memanggil namaku, “braak” tak sabar Habibi mendobrak pintu kamarku dan “siapa cowok ini?” tanyanya dengan nada kasar “ini yah balasanmu setelah kita berusaha keras meminta dukungan, bahkan Bapamu pun sudah terlihat ramah padaku!” belum sempat aku menjawab dia sudah menghujamku dengan pertanyaan yang memang aku harapkan, dengan cekatan tangannya merobek kertas yang berisi tanda tangan tanpa ampun dia membuat kertas itu menjadi sobekan tak bermakna, mungkin ia ingin mengibaratkan hubungan kita.
***
                Kondisi semakin tak membaik kurasakan itu tapi untuk takdir ini aku merasa sedikit senang karna tugasku sebagai anak agung dapat kujalani samapai titik ini masih kupegang kepercayaan dewa Siwa yang dititipkan kepadaku dan untuk yang terakhir sebelum rencanaku berlanjut kuambil secarik kertas dan bolpoin, kutuliskan surat terakhirku untuk mahluk yang tak enggan lenyap di otakku.
Dear my lovely,
Betapapun telah kucoba menghapus bayangmu, tapi itu tak mudah bagiku. Aku tau kita berbeda tapi pada hakikatnya kita sama, sama mengemban tugas yang tak mudah, disini aku dengan amanat yang dititipkan dewa Siwa padaku melalui namaku dan begitupun kamu dengan beribu santrimu yang tak mungkin kau lepas demi aku bukan? Maaf, bukan aku bermaksud menyakitimu kala itu memang rencanaku membuatmu membenciku dengan menghadirkan sepupuku Andre. Tapi bagai bumerang aku membuatmu melupakanku bahkan aku tak sanggup mendengar namamu disebut. Aku lakukan itu karna aku benci dengan takdir Tuhanku memendam virus HIV ditubuhkku, aku tak ingin menjadi Ibu dari anak-anakmu jika akulah yang menjadi penyebab kematianmu dan anak-anak kita kelak. Dan kamu pasti terkejut dengan sikap lembut Bapa waktu itu, ha..ha.. aku sampai harus memaksanya untuk memuluskan rencanaku dengan imbalan aku melupakanmu dan taukah sayangku aku bukan sepenyabar engkau yang mungkin bisa menerima keadaan ini, kalu kau masih menyangiku datanglah di lapangan dekat rumahku. Kutunggu.
***
                Suasana di kampungku kembali ramai dengan ribuan yang tangis mewarnai, bagaimana tidak mangku sepuh mereka telah reinkarnasi bersama dewa Siwa, orang yang cukup disegani orang yang tak lain dan tak bukan adalah Bapaku. Dengan kebaya dan bunga kamboja yang terselip di teingaku kuhadiri upacarangaben dengan genangan air mata, dengan pasrah kubulatkan tekatku menghabiskan waktu yang berbeda bersama Bapa, kulangkahkan kaki mendekati jilatan api yang membakar tubuh Bapaku “stop jangan mendekat Yu..” dengan mata yang terus mengalirkan air mata Habibi datang dan mencoba menggagalkan rencanaku “ah.. diam kamu,” bentakku “aku bukan wanita suci yang layak kamu pertahankan, itukan yang kamu tau!” lanjutku “menikahlah denganku!” ajak Habibi “maukah kau mengagungkan Siwa?” tanyaku memojokkannya “maaf Yu itulah salah satu hal yang tak mungkin kulakukan” aku telah muak dengan hidup ini semua terasa pahit untukku, tanpa fikir panjang kubenamkan tubuhku bersama balutan api tiba-tiba sebuah tangan menggenggamku dan aku tau siapa itu “asyhadu allailahaillAllah” aku akan menjadi istri tersholehah yang pernah kau tau tapi tidak disini.
Untuk warga Hindu yang mulia jagalah persaudaraan kalian tak hanya sesama agama, kelak kalian akan tau indahnya, AA Ayu Iswariyati.
by : Andriana Putri Wijaya 

1 komentar: