KAMBOJA
“Ombworbwaswatatsawiturwarinnya...”
semilir angin bersama kesejukan menghempaskan helai demi helai rambutku membuat
bunga kamboja kuning yang terselip di telinga terjatuh, kubiarkan bunga indah
itu berteman dengan suburnya tanah di pulauku. “Ayu maukah kau menikah
denganku?” bagaimana mungkin aku sanggup menolak, tapi...
ting...ting...ting.... alunan lonceng yang diyangkan Bapaku membangunkan
lamunan yang kurasa tak perlu, dengan imaji yang masih melekat difikiranku
kuteruskan upacara ngaben mayat Ibuku, tak lama setelah upacara selesai Bapa
memanggilku “Ayu kamu tau artinya kasta di Bali ini?” dibuka dengan pertanyaan
Bapa yang tak biasa sekaligus pertanyaan yang bisa mengguncangkan hatiku sekali
ucap, “tau, tiang menghormati kasta tiang sebagai anak agung” jawabku singkat
tanpa melihat mata Bapa yang tak lagi memancarkan cahaya kelembutan.
***
Anak
agung Ayu Iswariyati nama yang memberatkan untukku, bukan aku tak menyukainya
tapi kata AA lah yang membuatku tak bisa merasakan hal yang sama dengan
teman-temanku yang lain. “Anak agung tak sepantasnya menjalin hubungan
dengan laki-laki lain agama, tau kamu! Dengan orang yang beda kasta saja tak
pantas, jauhi dia!” sekelibat bayangan Bapa memarahiku seminggu yang lalu
membayangi fikiranku seolah hantu yang kapanpun bisa menerkamku, selama aku
hidup dengan rela aku diperlakukan berbeda hanya satu yang tak dapat
kuikhlaskan itu karna aku tak bisa merasakan kesempurnaan cinta Habibi sebagai
wanita yang layak disandarkannya wanita yang layak ia panggil istri, “anak
agung tidak layak pulang malam sampai selarut ini” sekali lagi petuah-petuah Bapa merajai
jalanku. “Door, ngelamun aja” kaget Habibi, laki-laki yang merubah cara
pandangku tentang hidup ini, “ih.. kamu suka sekali sih ngangetin orang”
balasku seraya melayangkan pukulan-pukulan kecil di lengannya, “yang, gimana
Bapa kamu sudah setuju ngak sama hubungan kita?” timpal Habibi “amh.. belum,
gimana sama Abah kamu?” tanyaku “ya gitu deh Abah selalu keras nentang, Abah
selalu kepikiran apa kata masyarakat ma santri-santrinya nanti” jelas Habibi
“terpaksa kita harus lupain semuanya, aku juga ngak bakl bisa ngecewain Bapa”
usulku dengan terpaksa, apa yang baru saja keluar dari mulutku memang tak
selaras dengan hatiku, kusimpan rapat-rapat kesedihanku agar tak terlihat di
matanya hatiku tercabik lebih kecil dari butiran debu “Aku ngak mau
kehilanganmu Yu, gimana kalau kita cari dukungan ke orang-orang?” usul Habibi
sedikit melekatkan kemabli keruntuhan hatiku yang rapuh sebelumnya. “Gimana
caranya kita minta dukungan?” tanyaku “kita minta tanda tangan orang sekitar
kita buat dukung hubungan kita, gimana setuju ngak?” tanyanya “oke kita muali
dari sekarang” ajakku, kuberharap dengan dukungan dari banyak orang bisa membuat
hati Bapaku dan Abah Habibi terbuka pintu hatinya demi kebahagian kedua anak
mereka. Berhiaskan keringat yang senantiasa mengalir di dahi kami, aku dan
Habibi mengelilingi Universitas tempat dimana kami kuliah. Dengan lelah,
sesekali Habibi mengusap keringat di dahiku, seseorang yang berperawakan
penduduk Timur tengah seperti Habibi memang sasaran yang tepat untuk melepas
lelah hanya dengan memandangnya.
***
Tetesan
air hujan terus mengalir membeberkan embun di kaca kamarku, untuk kali ini aku
tercabik lagi bukan karena mereka tetapi karna diriku sendiri, semakin terfikir
semakin aku yakin Tuhan tak izinkan aku untuk tersenyum bahagia kali ini. “Ayu,
Habibi datang, dia ada di depan!” kata Bapa dengan nada rendah, dengan cepat ku
muali rencana yang telah kurancang dengan kemampuan ekting yang pas-pasan aku
mulai permainan dengan separuh hati. “Tok..tok..tok.., Ayu!” kali ini Habibi
berada tepat didepan pintu kamarku seraya mengetoknya dan memanggil namaku, “braak”
tak sabar Habibi mendobrak pintu kamarku dan “siapa cowok ini?” tanyanya dengan
nada kasar “ini yah balasanmu setelah kita berusaha keras meminta dukungan,
bahkan Bapamu pun sudah terlihat ramah padaku!” belum sempat aku menjawab dia
sudah menghujamku dengan pertanyaan yang memang aku harapkan, dengan cekatan
tangannya merobek kertas yang berisi tanda tangan tanpa ampun dia membuat
kertas itu menjadi sobekan tak bermakna, mungkin ia ingin mengibaratkan
hubungan kita.
***
Kondisi
semakin tak membaik kurasakan itu tapi untuk takdir ini aku merasa sedikit
senang karna tugasku sebagai anak agung dapat kujalani samapai titik ini masih
kupegang kepercayaan dewa Siwa yang dititipkan kepadaku dan untuk yang terakhir
sebelum rencanaku berlanjut kuambil secarik kertas dan bolpoin, kutuliskan
surat terakhirku untuk mahluk yang tak enggan lenyap di otakku.
Dear my lovely,
Betapapun telah kucoba menghapus bayangmu, tapi itu tak
mudah bagiku. Aku tau kita berbeda tapi pada hakikatnya kita sama, sama
mengemban tugas yang tak mudah, disini aku dengan amanat yang dititipkan dewa
Siwa padaku melalui namaku dan begitupun kamu dengan beribu santrimu yang tak
mungkin kau lepas demi aku bukan? Maaf, bukan aku bermaksud menyakitimu kala
itu memang rencanaku membuatmu membenciku dengan menghadirkan sepupuku Andre.
Tapi bagai bumerang aku membuatmu melupakanku bahkan aku tak sanggup mendengar
namamu disebut. Aku lakukan itu karna aku benci dengan takdir Tuhanku memendam
virus HIV ditubuhkku, aku tak ingin menjadi Ibu dari anak-anakmu jika akulah
yang menjadi penyebab kematianmu dan anak-anak kita kelak. Dan kamu pasti
terkejut dengan sikap lembut Bapa waktu itu, ha..ha.. aku sampai harus
memaksanya untuk memuluskan rencanaku dengan imbalan aku melupakanmu dan taukah
sayangku aku bukan sepenyabar engkau yang mungkin bisa menerima keadaan ini,
kalu kau masih menyangiku datanglah di lapangan dekat rumahku. Kutunggu.
***
Suasana
di kampungku kembali ramai dengan ribuan yang tangis mewarnai, bagaimana tidak
mangku sepuh mereka telah reinkarnasi bersama dewa Siwa, orang yang cukup
disegani orang yang tak lain dan tak bukan adalah Bapaku. Dengan kebaya dan
bunga kamboja yang terselip di teingaku kuhadiri upacarangaben dengan genangan
air mata, dengan pasrah kubulatkan tekatku menghabiskan waktu yang berbeda
bersama Bapa, kulangkahkan kaki mendekati jilatan api yang membakar tubuh
Bapaku “stop jangan mendekat Yu..” dengan mata yang terus mengalirkan air mata
Habibi datang dan mencoba menggagalkan rencanaku “ah.. diam kamu,” bentakku
“aku bukan wanita suci yang layak kamu pertahankan, itukan yang kamu tau!” lanjutku
“menikahlah denganku!” ajak Habibi “maukah kau mengagungkan Siwa?” tanyaku
memojokkannya “maaf Yu itulah salah satu hal yang tak mungkin kulakukan” aku
telah muak dengan hidup ini semua terasa pahit untukku, tanpa fikir panjang
kubenamkan tubuhku bersama balutan api tiba-tiba sebuah tangan menggenggamku
dan aku tau siapa itu “asyhadu allailahaillAllah” aku akan menjadi istri
tersholehah yang pernah kau tau tapi tidak disini.
Untuk warga Hindu yang mulia jagalah persaudaraan kalian
tak hanya sesama agama, kelak kalian akan tau indahnya, AA Ayu Iswariyati.
by : Andriana Putri Wijaya